Oleh: Sahril Tialo
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Gorontalo masih memiliki peluang besar untuk kembali menjadi kekuatan rakyat yang nyata. Hal ini bukan sekadar optimisme kosong, melainkan keyakinan yang bertumpu pada sejarah panjang GMNI sebagai organisasi perjuangan yang berakar pada ideologi Marhaenisme sebuah ajaran yang diwariskan oleh Soekarno untuk membela kaum tertindas.
Sejak didirikan pada 23 Maret 1954, GMNI telah menempatkan dirinya sebagai alat perjuangan rakyat. Spirit itu yang seharusnya terus hidup, termasuk di Gorontalo hari ini. Namun, keyakinan ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa GMNI Gorontalo sedang berada dalam fase refleksi. Dinamika internal organisasi, rutinitas kegiatan, hingga arah gerakan yang terkadang kehilangan daya tekan, menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Aktivitas organisasi memang berjalan, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan dampak yang signifikan di tengah masyarakat. Padahal, rakyat tidak membutuhkan organisasi yang hanya aktif di ruang diskusi atau forum formal. Rakyat membutuhkan kehadiran yang nyata kehadiran yang mampu mendengar, memahami, dan memperjuangkan. Di sinilah letak urgensi bagi GMNI Gorontalo untuk kembali menegaskan arah geraknya.
Sebagai organisasi ideologis, GMNI tidak boleh kehilangan orientasi. Marhaenisme harus menjadi landasan dalam setiap langkah bukan sekadar wacana, tetapi menjadi praksis. Artinya, kader GMNI Gorontalo harus mampu menerjemahkan ideologi tersebut dalam tindakan konkret: turun ke desa, mendampingi masyarakat, dan terlibat langsung dalam persoalan-persoalan rakyat.
Selain itu, penting untuk menjaga kemurnian perjuangan dari pengaruh pragmatisme. Organisasi ini tidak boleh menjadi alat kepentingan sesaat, baik kepentingan individu maupun kelompok. Ketika orientasi mulai bergeser, maka di situlah risiko kehilangan jati diri semakin besar.
Momentum peringatan hari lahir GMNI menjadi waktu yang tepat untuk melakukan pembenahan. Bukan sekadar merayakan usia, tetapi mengevaluasi arah dan memperkuat komitmen. Konsolidasi internal harus diperkuat, kualitas kader harus ditingkatkan, dan basis gerakan harus diperluas.
GMNI Gorontalo juga dituntut untuk mampu menjawab tantangan zaman. Gerakan harus adaptif, tanpa kehilangan substansi. Isu-isu lokal seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi fokus utama, sekaligus dikaitkan dengan dinamika nasional yang lebih luas.
GMNI sudah berusia 72 tahun. Bukan usia yang singkat untuk sebuah organisasi perjuangan. Ini adalah usia kematangan usia di mana GMNI tidak lagi sekadar tumbuh, tetapi harus mampu membuktikan arah dan keberpihakannya. Di usia ini, GMNI tidak boleh berjalan di tempat, tidak boleh terjebak dalam rutinitas tanpa makna, dan tidak boleh kehilangan keberanian dalam bersikap.
GMNI sudah berusia 72 tahun, saatnya berani mengoreksi diri, menguatkan ideologi, dan kembali sepenuhnya ke jalan rakyat.
Setiap langkah harus dipastikan benar-benar berpihak pada kaum Marhaen bukan pada kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, eksistensi GMNI akan selalu diukur dari keberpihakannya. Sejauh mana organisasi ini hadir di tengah rakyat, sejauh itu pula ia memiliki makna.
Selama masih ada keberanian untuk berbenah dan kembali ke jalan perjuangan, GMNI Gorontalo akan tetap relevan dan mampu menjadi kekuatan rakyat yang nyata.












