ETNIK MEDIA.ID, BOALEMO – Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, menyoroti serius kondisi SMP Negeri 5 Satu Atap (Satap) Botumoito yang kini hanya memiliki 13 siswa aktif. Dalam kunjungannya saat menghadiri kegiatan sunatan massal Pemuda Muhammadiyah, Lahmudin menyampaikan bahwa jumlah siswa yang terus menurun dapat mengancam keberlangsungan sekolah.
Dirinya menegaskan bahwa apabila sekolah tidak memenuhi syarat minimal jumlah siswa, kemungkinan besar sekolah akan ditutup, dan hal itu menjadi kerugian besar bagi masyarakat sekitar.
“Kalau sekolah ini tutup, yang rugi adalah masyarakat. Guru dan kepala sekolah bisa dipindahkan, tapi akses pendidikan bagi warga di sini akan semakin jauh. Ini yang tidak kita inginkan,” jelas Lahmudin, Minggu 23 November 2025.
Baca Juga: Kominfo Boalemo Gelar Sertijab, Roni Taningo Siap Lanjutkan Program Strategis
Lahmudin menilai masalah utama menurunnya minat orang tua menyekolahkan anak di SMPN 5 Satu Atap Botumoito perlu ditelusuri secara terbuka. Ia meminta pihak sekolah, PGRI, guru, dan masyarakat duduk bersama untuk mengetahui akar persoalan.
Menurutnya, beberapa orang tua memilih sekolah lain karena fasilitas penunjang seperti olahraga, marching band, dan ekstrakurikuler dianggap lebih lengkap di tempat lain. Lahmudin menekankan bahwa komunikasi intens antara pihak sekolah dan orang tua sangat penting.
“Kita harus tahu apa penyebab mereka memilih sekolah lain. Tidak harus memaksa, tapi harus mengerti dulu alasan mereka. Dari situ kita bisa rumuskan langkah perbaikan,” beber Lahmudin.
Baca Juga: Soroti Lambannya Penyidikan, Sahril Ajak Warga Boalemo Kawal Dugaan Kasus Perdis Fiktif DPRD
Meski APBD Boalemo tahun 2025 mengalami pengurangan, kata dia, Pemda tidak tinggal diam. Ia menyampaikan bahwa Boalemo mendapatkan perhatian dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk peningkatan fasilitas sekitar 20 sekolah pada tahun 2025.
“Ini bukti bahwa kita bekerja. Walaupun anggaran daerah terbatas, kita tetap berupaya agar fasilitas pendidikan bisa meningkat,” tegasnya.
Lahmudin juga mengingatkan bahwa keberadaan sekolah di wilayah pedesaan sangat penting karena memudahkan pengawasan, memperpendek jarak tempuh, dan mengurangi risiko kenakalan remaja.
“Sekolah ini dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai hanya karena kekurangan siswa kita biarkan sekolah mati. Kita harus bersama-sama menyelamatkan sekolah ini,” tutupnya.












