ETNIK MEDIA.ID, BOALEMO – UPTD Puskesmas Bongo Nol mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan, sejumlah program prioritas menjadi perhatian bersama, mulai dari Cek Kesehatan Gratis (CKG), Bulan Imunisasi Kejar, Tracing Tuberkulosis (TBC), penanganan stunting, hingga perbaikan status gizi.
Kepala UPTD Puskesmas Bongo Nol, Bdn. Sri Utami Sumarji, S.ST., menyampaikan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah mencapai target yang ditetapkan sebesar 46 persen. Capaian ini menjadi salah satu poin penting dalam pelaksanaan program kesehatan sekaligus mendorong penguatan pelayanan preventif di wilayah kerja Puskesmas Bongo Nol.
Dijelaskan Kapus Sri, rapat koordinasi lintas sektor tersebut menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan langkah antara tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan terkait, sehingga program kesehatan tidak hanya berjalan di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga menjangkau masyarakat melalui dukungan berbagai unsur di tingkat wilayah.
“CKG menjadi salah satu program yang penting karena mendorong masyarakat memeriksakan kondisi kesehatannya sejak dini. Melalui pemeriksaan ini, faktor risiko maupun masalah kesehatan dapat diketahui lebih awal untuk kemudian ditindaklanjuti sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing pasien,” beber Kapus Sri, Jumat 23 Oktober 2026.
Disampaikan Kapus Sri, Selain CKG, pelaksanaan Bulan Imunisasi Kejar turut menjadi perhatian. Program ini diarahkan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, sehingga perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat ditingkatkan. Dukungan pemerintah desa, kader Posyandu, dan keluarga diperlukan untuk membantu mengidentifikasi sasaran serta mendorong kehadiran anak dalam pelayanan imunisasi.
“Dalam upaya penanggulangan TBC, penelusuran kasus atau tracing menjadi langkah penting untuk menemukan terduga penderita sedini mungkin, mendorong pemeriksaan sesuai prosedur, serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat. Kolaborasi lintas sektor juga diperlukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan mengurangi stigma terhadap penderita TBC,” ungkap Kapus Sri.
Sementara itu, lanjut Kapus Sri, penanganan stunting dan perbaikan status gizi membutuhkan perhatian berkelanjutan. Pemantauan pertumbuhan balita, edukasi pemenuhan gizi, penguatan peran Posyandu, serta pendampingan keluarga menjadi bagian penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
“Melalui koordinasi lintas sektor, kami berharap berbagai persoalan kesehatan tersebut diatas dapat ditangani secara lebih terarah. Peran masing-masing pihak diperlukan untuk mendukung penyebaran informasi, mengidentifikasi kelompok sasaran, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan memastikan tindak lanjut pelayanan berjalan sesuai kebutuhan,” pungkasnya.












